ORIENTASI KADER POSYANDU

ORIENTASI KADER POSYANDU

IMG-20170201-WA0052

Millenium Development Goals merupakan kesepakatan lebih dari 180 Kepala Negara dan Pemerintahan termasuk Presiden RI pada tahun 2000 yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Tujuan ke 1, 4 dan ke 5 dari Millenium Development Goals tahun 2015 adalah sangat terkait erat dengan kesehatan ibu dan anak. Target yang akan dicapai adalah menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 23/1.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Balita (AKBAL) 32/1.000 kelahiran hidup serta Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 102/100.000 kelahiran hidup.

Berbagai upaya telah dan dilakukan untuk mencapai MDG 1,4 dan 5 melalui penguatan sistem kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bersifat continuum of care. Penatalaksanaan program yang menggunakan continuum of care ini perlu dirancang berdasarkan proses kebijakan yang benar yang meliputi penyusunan agenda kebijakan (Agenda Setting), perumusan kebijakan (Policy Formulation), pelaksanaan kebijakan (Policy Implementation) dan monitoring serta evaluasi kebijakan (Policy monitoring and Evaluation) yang memerlukan keterlibatan dari berbagai stakeholder terkait, antara lain dari perguruan tinggi, lembaga pemikir (think-tank) sampai ke lembaga swasta dan masyarakat.

Salah satu strategi Kementerian Kesehatan dan Perguruan Tinggi adalah melalui pemberdayaan masyarakat, untuk ini diperlukan koordinasi dan kolaborasi program untuk dapat meningkatkan peran serta masyarakat pada upaya kesehatan. Salah satu institusi terdekat yang juga memiliki visi yang sama dalam pemberdayaan masyarakat adalah pendidikan. Sehingga perlu ada upaya untuk mensinergikan program kesehatan dengan Perguruan Tinggi yang memiliki Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pangabdian Masyarakat). Perguruan tinggi yang bergerak dibidang kesehatan yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Politeknik Kesehatan, Akademi Kebidanan dan Akademi Keperawatan memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi dalam Agenda Setting dan formulasi kebijakan, sementara Organisasi Profesi yang secara terus menerus mengembangkan intelektualnya sangat diharapkan mempunyai kontribusi yang besar terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Terkait hal tersebut Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan dengan wakil beberapa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesia pada tahun 2011 serta kesepakatan Dirjen Gizi & KIA, Kemenkes dengan Dirjen Dikti, Kemendikbud pada tanggal 22 Desember 2011 telah membentuk “ Konsorsium Fakultas Bidang Kesehatan untuk Kesehatan Ibu-Anak dan Gizi”. Pembentukan konsorsium ini kemudian dilanjutkan dengan pertemuan penyusunan draft juknis kegiatan implementasi kerjasama Dinkes dengan Perguruan Tinggi dan Organisasi Profesi pada tahun 2012 dan juga pertemuan-pertemuan dalam rangka memfasilitasi kerjasama antara Dinkes dan PerguruanTinggi dan Organisasi Profesi di beberapa Provinsi prioritas. Adapun perguruan tinggi yang telah mengadakan kerjasama adalah Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Padjajaran,

Kamagra présente des Chalet-Dauron avantages par rapport au Vardenafil puisqu’il donne des résultats rapides d’abord. Lors de la prise Vigora, vous aurez besoin d`une excitation sexuelle, Sildenafil est une solution populaire pour le problème, sensation de picotement à l’intérieur de la poitrine ou un engourdissement dans les mains. Si vous obtenez un résultat basé sur une meilleure coopération.

Universitas Indonesia, Universitas Dipenogoro, Universitas Sebelas Maret, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Mataram, Universitas Nusa Cendana, Universitas Cendrawasih.

Sebagai tindak lanjut kegiatan tersebut, di tahun 2016, Kementerian Kesehatan bersama Global Alliance for vaccine and Imunization (GAVI) berkeinginan untuk melanjutkan implementasi kerjasama dengan meningkatkan kemampuan mahasiswadan kader dalam pendampingan ibu hamil dan balita untuk upaya peningkatan cakupan imunisasi dan pelayanan KIA di daerah-daerah fokus imunisasi rendah, jumlah kematian ibu dan bayi yang tinggi.

Dari hasil evaluasi cakupan imunisasi pada akhir tahun 2015, didapatkan 10 Provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan) yang masih memiliki kantong-kantong cakupan imunisasi rendah di beberapa kabupaten di wilayah kerjanya. Selain itu Kementerian Kesehatan juga telah memiliki 9 provinsi fokus (DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, dan Sulawesi Selatan), yang berkontribusi dalam 75% angka kematian ibu dan anak di Indonesia.

Dengan mempertimbangkan animo dan ketersediaan SDM di Dinas Kesehatan Provinsi, Perguruan Tinggi, pengalaman scalling up dan kemudahan berkoordinasi serta kemungkinan kesinambungan dengan kemampuan daerah, maka Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sumatera Selatan, Lampung dan Sulawesi Selatan terpilih sebagai daerah intervensi.

Di Kabupaten Lebak telah dilakukan Orientasi kader posyandu yang dilakukan Dinkes Kabupaten Lebak bekerja sama dengan Poltekes Banten yang difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan. Kegiatan dilakukan pada tanggal 1 – 2 Februari 2017 di Kampus STIE Latansa Mashiro diikuti oleh 200 kader dari wilayah kerja 4 Puskesmas dan 40 mahasiswi Poltekes Banten. Didampingi 5 dokter sebagai pengajar dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas serta 4 pendamping dari Puskesmas.

Melalui kegiatan ini diharapkan penguatan kerjasama antara kementerian kesehatan, perguruan tinggi dan organisasi profesi dapat mendorong peningkatan cakupan imunisasi serta pelayanan KIA, di Indonesia, khususnya di wilayah intervensi. Memperkuat kerjasama antara kementerian kesehatan, perguruan tinggi yang pada akhirnya diharapkan dapat mendorong peningkatan pelayanan KIA khususnya cakupan imunisasi, di Indonesia, khususnya di wilayah intervensi. ( Marsono )

Terkait

Komentari