IMUNISASI

Imunisasi adalah program pencegahan penyakit menular yang diterapkan dengan memberikan vaksin sehingga orang tersbut imun atau resisten terhadap penyakit tersebut. Program imunisasi dimulai sejak usia bayi hinggan masuk usia sekolah. Melalui program ini, anak akan diberikan vaksin yang berisi jenis bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan guna merangsang sistem imun dan membentuk antibodi di dalam tubuh mereka. Antibodi yang terbentuk setelah imunisasi bermanfaat untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus tersebut di masa yang akan datang.
Metode pemberian vaksin dalam imunisasi beragam, ada yang dengan cara disuntikkan, dimasukkan (ditetesi) ke dalam mulut, atau bahkan disemprotkan ke dalam mulut atau hidung. Sejumlah vaksin ada yang hanya diberikan sekali seumur hidup dan ada juga yang perlu diberikan secara berkala agar kekebalan tubuh terbentuk dengan sempurna.
Bayi baru lahir memang telah memiliki antibodi dari ibunya yang diterima saat masih di dalam kandungan, namun kekebalan ini hanya dapat bertahan hingga beberapa minggu atau bulan saja. Setelah itu, bayi akan menjadi rentan terhadap berbagai jenis penyakit dan perlu mulai memproduksi antibodi sendiri. Dengan imunisasi, sistem kekebalan tubuh anak akan siap untuk menghadapi serangan penyakit tertentu di masa depan, seperti cacar, campak, polio, tetanus, dan gondongan, sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Imunisasi juga bisa membantu mencegah epidemi penyakit menular serta menekan pengeluaran karena biaya pencegahan lebih murah daripada biaya pengobatan. (Pengertian Imunisasi – www.alodokter.com)

Vaksinasi disebut juga imunisasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kata vaksinasi berasal dari bahasa Latin vacca yang berarti sapi – diistilahkan demikian karena vaksin pertama berasal dari virus yang menginfeksi sapi (cacar sapi). (Vaksinasi – Wikipedia Indonesia)

Imunisasi aktif

Imunisasi aktif dapat timbul ketika seseorang bersinggungan dengan patogen. Sistem imun akan membentuk antibodi dan perlindungan/perlawanan lainnya terhadap mikroba. Di masa depan, respon imunitas terhadap mikroba ini dapat sangat efisien; ini adalah kasus di mana banyak anak-anak terinfeksi walaupun hanya sekali, tetapi kemudian kebal.

Imunisasi aktif buatan adalah di mana mikroba, atau bagian darinya, diinjeksikan kepada seseorang sebelum ia dapat melakukannya secara alami. Jika keseluruhan mikroba digunakan, maka perlu dilemahkan.

Imunisasi sangatlah penting, sehingga the American Centers for Disease Control and Prevention menamainya sebagai salah satu dari the “Ten Great Public Health Achievements in the 20th Century”.[2] Vaksin hidup yang telah dilemahkan telah berkurang sifat penyakitnya. Keefektifannya tergantung dari kemampuan sistem imun untuk mereplikasi dan memberikan respon seperti terjadi infeksi alamiah. Biasanya sudah efektif diberikan satu injeksi saja. Contoh vaksin hidup yang telah dilemahkan meliputi tampekgondonganrubella, atau kombinasi ketiganya dalam satu vaksin sebagai vaksin MMR, demam kuning (yellow fever), cacar air (varicella), rotavirus, dan vaksin influenza.

Imunisasi pasif

Imunisasi pasif adalah elemen-elemen pra-sintesis dari sistem kekebalan yang dipindahkan kepada seseorang, sehingga tubuhnya tidak perlu membuatnya sendiri elemen-elemen tersebut. Akhir-akhir ini, antibodi dapat digunakan untuk imunisasi pasif. Metode imunisasi ini bekerja sangat cepat, tetapi juga berakhir cepat, karena antibodi akan lisis dengan sendirinya, dan jika tak ada sel-sel B untuk membuat lebih banyak antibodi, maka mereka akan hilang.

Imunisasi pasif terdapat secara fisiologi, ketika antibodi dipindahkan dari ibu ke janin selama kehamilan, untuk melindungi janin sebelum dan sementara waktu sesudah kelahiran.

Imunisasi pasif buatan umumnya diberikan melalui injeksi dan digunakan jika ada wabah penyakit tertentu atau penanganan darurat keracunan, seperti pada tetanus. Antibodi ini dapat dibuat menggunakan binatang, dinamai “terapi serum”, meskipun ada kemungkinan besar terjadinya syok anafilaksis, karena sistem imun yang melawan serum binatang tersebut. Jadi, antibodi manusia dihasilkan secara in vitro melalui kultur sel dan digunakan menggantikan antibodi dari binatang, jika tersedia. Di kota-kota besar di Indonesia selalu tersedia vaksin rabies untuk mereka yang ingin mendapatkan kekebalan terhadap rabies dan serum anti-rabies bagi mereka yang dikhawatirkan sudah terjangkit rabies, karena misalnya habis digigit anjing atau monyet. (Vaksinasi – Wikipedia Indonesia)

Efek Samping Imunisasi
Umumnya efek samping imunisasi tergolong ringan, misalnya:
• Nyeri atau bekas berwarna kemerahan di bagian yang disuntik
• Demam
• Mual
• Pusing
• Hilang nafsu makan
Untuk efek samping yang tergolong parah (misalnya kejang dan reaksi alergi), jarang sekali terjadi. Pertimbangkanlah kembali jika Anda berencana untuk tidak menyertakan anak ke dalam program imunisasi karena risiko efek samping vaksinasi itu sendiri lebih kecil dibandingkan manfaatnya sepanjang hidup.
Jenis-jenis Vaksin Imunisasi di Indonesia
Berikut ini adalah jenis-jenis vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam program imunisasi, di antaranya:
• Hepatitis B
• Polio
• BCG
• DTP
• Campak
• Hib
• PCV
• Rotavirus
• Influenza
• MMR
• Tifoid
• Hepatitis A
• Varisela
• HPV
Di Indonesia, vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP dan campak merupakan imunisasi wajib. Sedangkan sisanya merupakan vaksinasi yang direkomendasikan.

Hepatitis B
Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan oleh virus melalui cairan tubuh dan darah. Pemberian vaksin hepatitis B bisa dilakukan pertama kali pada anak setelah kelahirannya. Selanjutnya vaksin ini bisa kembali diberikan pada saat anak berusia satu bulan dan pemberian ketiga di kisaran usia 3-6 bulan.
Efek samping vaksin hepatitis B yang tergolong umum adalah demam dan rasa lelah pada anak. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit menjadi kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.

Polio
Polio merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, sesak napas, dan terkadang kematian. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu rangkaian, yaitu pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua, empat, serta enam bulan. Vaksin ini selanjutnya bisa diberikan kembali di usia satu setengah tahun, dan yang terakhir di usia lima tahun.
Efek samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu aller sur le site makan, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi berupa gatal, kulit kemerahan, wajah membengkak hingga susah bernapas atau menelan.

BCG
Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau yang lebih dikenal sebagai TBC. Penyakit ini merupakan penyakit serius yang dapat ditularkan melalui hubungan dekat dengan orang yang terinfeksi TB, seperti hidup di rumah yang sama.
Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat anak baru dilahirkan hingga berusia dua bulan. Efek samping vaksin BCG yang paling umum adalah munculnya benjolan bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.

DTP
Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan.
Difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas, radang paru-paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus merupakan penyakit kejang dan kaku otot yang sama mematikannya. Dan yang terakhir adalah batuk rejan atau pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang dapat mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri, batuk rejan juga dapat menyebabkan radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian.
Pemberian vaksin DTP harus dilakukan lima kali, yaitu pada saat anak berusia:
• Dua bulan
• Empat bulan
• Enam bulan
• Satu setengah tahun
• Lima tahun
Vaksin DTP tidak dilisensikan untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, remaja, atau dewasa. Namun vaksin sejenis yang disebut Tdap bisa diberikan pada usia 12 tahun. Efek samping vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam, dan mual. Efek samping yang jarang terjadi adalah kejang-kejang.

Campak
Campak adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, radang mata, dan ruam. Vaksin campak diberikan tiga kali yaitu pada saat anak berusia sembilan bulan, dua tahun, dan enam tahun.

MMR
Selain vaksin campak biasa, ada pilihan alternatif yaitu vaksin MMR yang merupakan vaksin kombinasi. Vaksin ini merupakan gabungan antara vaksin campak, gondong, dan campak Jerman.
Gondong merupakan penyakit virus yang menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar parotis di bawah telinga. Gejala lain dari gondong adalah demam, nyeri sendi, dan sakit kepala. Campak Jerman merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan nyeri sendi, pilek, demam, pembengkakan kelenjar di sekitar kepala dan leher, serta munculnya ruam berwarna merah pada kulit.
Pemberian vaksin MMR dilakukan dua kali, yaitu saat anak berusia satu tahun tiga bulan dan saat anak berusia 15-18 bulan dengan minimal jarak 6 bulan dengan pemberian vaksin campak. Pemberian kedua diberikan saat anak berusia 6 tahun. Sebagai patokan, imunisasi campak diberikan dua kali atau MMR dua kali.
Efek samping vaksin MMR yang paling umum adalah demam dan efek samping yang jarang terjadi adalah sakit kepala, ruam berwarna ungu pada kulit, muntah, nyeri pada tangan atau kaki, dan leher kaku.
Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah isu autisme akibat pemberian vaksin MMR. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Hingga kini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.

Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi mematikan yang disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe B. Beberapa kondisi parah yang dapat disebabkan virus Hib adalah meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru-paru), septic arthritis (radang sendi), dan pericarditis (radang kantong jantung).
Pemberian vaksin Hib harus dilakukan empat kali, yaitu saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, dan 18 bulan. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin Hib adalah reaksi alergi berupa kemerahan dan gatal.

Pneumokokus
Vaksin pneumokokus (PCV) diberikan untuk mencegah penyakit pneumonia, meningitis, dan septikemia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.
Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua, empat, dan enam bulan. Selanjutnya pemberian vaksin dapat kembali dilakukan saat anak berusia 12-15 bulan.
Efek samping vaksin PCV yang bisa terjadi adalah pembengkakan dan warna kemerahan pada bagian yang disuntik, serta diikuti dengan demam ringan.

Rotavirus
Vaksin rotavirus merupakan jenis vaksin untuk mencegah diare. Pemberian vaksin ini dilakukan secara berangkai, yaitu pada saat anak berumur 10 minggu dan 6 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Efek samping vaksin rotavirus yang paling umum diare ringan. Efek pada bayi dapat menyebabkannya menjadi lebih rewel.
Varisela
Vaksin varisela merupakan vaksin untuk mencegah penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Vaksin ini diberikan pada anak berusia satu tahun ke atas. Vaksin diberikan dua kali jika anak berusia di atas 13 tahun dengan jarak waktu 4-8 minggu.
Efek samping pemberian vaksin varisela yang tergolong umum adalah kemerahan dan nyeri pada bagian yang disuntik. Dan efek samping yang tergolong lebih jarang adalah ruam kulit.

HPV
Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker serviks atau kanker pada leher rahim yang sebagian besar kasusnya disebabkan oleh virus human papillomavirus. Vaksin HPV dapat diberikan sejak anak berumur 10 hingga 26 tahun. Efek samping pemberian vaksin HPV yang tergolong umum adalah:
• Sakit kepala
• Nyeri, bengkak, gatal, memar, dan merah pada bagian kulit yang disuntik
• Demam
• Nyeri tangan dan kaki
• Mual
Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah urtikaria atau biduran.

Hepatitis A
Vaksin hepatitis A diperuntukkan mencegah penyakit hepatitis A yang disebabkan oleh virus. Vaksin ini harus diberikan dua kali mulai usia 2 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 12 bulan.
Efek samping vaksin hepatitis A yang umum adalah demam dan rasa lelah, sedangkan efek samping yang tergolong jarang adalah gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.

Tifus
Vaksin tifus diberikan untuk mencegah penyakit tifus yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Gejala penyakit ini meliputi demam, diare, dan sakit kepala.Jika tidak segera ditangani, gejala tersebut bisa memburuk, dan menyebabkan berbagai komplikasi, seperti infeksi usus dan perforasi (robek) usus.
Pemberian vaksin tifus bisa dilakukan pada saat anak berusia 2 tahun dengan frekuensi pengulangan tiap tiga tahun sekali. Efek samping pemberian vaksin tifus yang mungkin saja terjadi adalah:
• Nyeri, bengkak, dan merah pada bagian yang disuntik
• Demam
• Sakit kepala
• Tidak enak badan
• Sakit perut
• Diare
Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk mencegah virus-virus influenza. Vaksinasi pada anak-anak bisa dilakukan sejak mereka berusia enam bulan dengan frekuensi pengulangan satu kali tiap tahun. Efek samping vaksin influenza di antaranya adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah bersin-bersin, sesak napas, sakit pada telinga, dan gatal-gatal. ( Pengertian Imunisasi – www.alodokter.com)

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau adverse events following immunization adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine-strain pada pasien imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio).

Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan. Efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin.

KIPI yang paling serius terjadi pada anak adalah reaksi anafilaksis. Angka kejadian reaksi anafilaktoid diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis DPT, tetapi yang benar-benar reaksi anafilaksis hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis. Anak yang lebih besar dan orang dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau lambat. Episode hipotonik/hiporesponsif juga tidak jarang terjadi, secara umum dapat terjadi 4-24 jam setelah imunisasi.

Tanda dan gejala KIPI

Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya. Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya.

Reaksi KIPI Gejala KIPI
Lokal
  • Abses pada tempat suntikan
  • Limfadenitis
  • Reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis, BCG-itis
SSP
  • Kelumpuhan akut
  • Ensefalopati
  • Ensefalitis
  • Meningitis
  • Kejang
Lain-lain
  • Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis, edema
  • Reaksi anafilaksis
  • Syok anafilaksis
  • Artralgia
  • Demam tinggi >38,5°C
  • Episode hipotensif-hiporesponsif
  • Osteomielitis
  • Menangis menjerit yang terus menerus (3jam)
  • Sindrom syok septik

Gejala Klinis KIPI sesuai jenis Imunisasi

Tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping, maka apabila seorang anak telah mendapatkan imunisasi perlu diobsevasi beberapa saat, sehingga dipastikan tidak terjadi KIPI (reaksi cepat). Berapa lama observasi sebenarnya sulit ditentukan, tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi selama 15 menit.untuk menghindarkan kerancuan maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu timbulnya gejala klinis. ( Kejadian Ikiutan Pasca Imunisasi – Media Imunisasi, Maret 2014) – Adysti RW

 

Sumber :

  1. Wikipedia Indonesia, Vaksinasi
  2. www.alodokter.com, Pengertian Imunisasi
  3. Media Imunisasi – Maret 2014, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi